Inspirasi

Inspirasi Belajar Bisnis dari Usaha Sepatu Brodo yang Memanfaatkan Digital Marketing

Mahirbisnis.id – Kalian tentu sudah pada mengenal sepatu dari Kota Bandung dengan nama Brodo. Sepatu dengan merk Brodo ini merupakan sepatu premium dengan kualitas yang baik dengan harga yang bersaing dan terjangkau. Sepatu yang diproduksi dengan sentuhan gaya teknik sipil dan fisika ini berhasil menarik pembeli di Indonesia, karena dengan keunikan bentuk dan juga kualitas tetnunya dengan harga yang baik juga maka sepatu Brodo menjadi pilihan di kalangan pecinta sepatu. Promosi yang dilakukan Brodo juga memanfaatkan Digital Marketing dengan mempromosikan produknya di dunia online maka brodo semakin terkenal terutama di kalangan anak muda, hanya dalam waktu 4 tahun jumlah produksi sepatunya sudah mencapai 4500 pasang perbulan dari awalnya hanya 30 pasang perbulan.

BACA JUGA : Inspirasi Bisnis dari HijUp Memanfaatkan Digital Marketing

Ide awal bisnis sepatu Brodo ini bermula dari sang pemiliknya Muhammad Yukka Harlanda yang saat itu hendak membeli sepatu formal dengan ukuran sepatu nomor 46 ternyata sulit sekali menemukan sepatu dengan ukuran tersebut dan sekalinya ada pun harganya cukup mahal yaitu dikisaran Rp. 1 juta ke atas . kemudian yukka tercetus ide kenapa tidak membuat sendiri saja sedangkan di Bandung tidak susah menemukan bahan baku untuk sepatu dan juga pengrajinnya. Maka dari itu pada tahun 2010 Yukka beserta teman sefakultasnya di ITB yaitu Putra Dwi Karunia sepakat untuk patungan berbisnis sepatu dan terkumpul modal sebesar Rp. 7 juta dan digunakan untuk produksi sepatu sebanyak 30 pasang.

Produk Sepatu Brodo
Produk Sepatu Brodo

Awal pemasarannya pun dijual ke lingkungan terdekat dulu yaitu keluarga dan teman-teman di kampusnya.

“Awalnya kami jual ke keluarga lalu ke teman kami dan temannya teman kami dan juga temannya dari temannya teman kami, pokoknya kami paksa mereka untuk membeli terserah mau dicicil, mau hutang pokoknya harus beli. Hahahaha…”Yukka berkelakar soal masa awal jualan sepatu itu”

Yang penting produk sepatunya laku dan modalnya bisa diputar kembali untuk produksi. Karena Yukka tidak mengerti atau masih awam dalam bisnis sepatu makanya dia sukses seperti sekarang ini

“Malah kalau sudah memiliki pengetahuan tentang bisnis sepatu mungkin saya tidak jadi berbisnis sepatu”

Di bisnis sepatu ini persaingannya berat, banyak penrajin yang sudah dikontrak oleh para pebisnis sehingga untuk menemukan pengrajin yang masih bebas dan bagus jelas merepotkan dan Yukka memerlukan waktu 2 bulan lamanya untuk mencari pengrajin. Begitu mendapatkan pengrajin Yukka dan Putra langsung “tancap gas” tidak membuang-buang waktu. Mereka mengedepankan great design dan great service. Mereka mencari inspirasi dari model-model sepatu luar negeri dan menciptakannya lagi tentunya dengan material dan desain yang berkualitas dan juga harga yang bersaing.

gambar dari hitsss
gambar dari hitsss

Tidak memerlukan waktu yang lama bagi sepatu Brodo untuk diterima pasar, nama Brodo sendiri diambil Yukka karena unik dan mudah untuk dilafalkan, sebenarnya Brodo dalam bahasa Italia yang artinya “kaldu ayam” tidak ada hunbungannya dengan sepatu tapi justru nama Brodo sendiri bisa membuat terkenal dan diterima masyarakat.

Pesanan demi pesanan mulai berdatangan dan pada bulan kedua sudah melakukan restock. Sepatu Brodo awal dijual seharga Rp. 375 ribu per pasang. Melihat peluang bahwa sepatu Brodo diterima pasar maka Yukka mulai membuat strategi bisnis, dan dia menargetkan Brodo harus Settle dalam waktu 4 tahun, jadi untuk membuat target itu tercapai maka yang dilakukan adalah bagaimana caranya agar sepatu Brodo dikenal luas (branding).

Yukka dan Putra memanfaatkan strategi promosinya melalui media sosial dengan memanfaatkan facebook untuk mengenalkan Brodo sekaligus jualan. Strategi digital marketing memang benar-benar ampuh untuk mempromosikan Brodo  mulai dari facebook, google adword, twiter, instagram, youtube hingga path semuanya dipromosikan dengan baik oleh Yukka dan Putra.

Selain promosi lewat online Yukka juga mempromosikan lewat offline yaitu mengikuti pameran-pameran dan juga menitip produknya di distro-distro. Hingga sepanjang tahun 2011 produk Brodo terpajang di Goods Dept, distro dan juga Spot Market di Jakarta dan Bandung. Yang awalnya transaksi penjualannya mengguanakan aplikasi chat BBM (Blackberry Messenger) hingga pada tahun 2012 Brodo mendirikan Store Outletnya di Jl. Kemang Selatan 8 no. 64 B Jakarta, dan juga situs ecommerce www.bro.do sehingga channel distribusi menggunakan e commerce dan toko offline.

Ini dilakukan agar personal branding Brodo lebih mengena ke konsumen daripada lewat distro atau toko orang lain yang belum tentu tau mengenai produk sepatu brodo. Strategi bisnis lainnya yang digunakan Brodo adalah mengusung knowledge sharing ini dapat dilihat dengan tidak adanya price tag pada sepatu brodo yang dipajang, hal ini dilakukan agar ada komunikasi antara penjaga toko dan pelanggan, sehingga pelanggannya dapat mendapatkan informasi mulai dari harga, bahan material hingga tehnik pengerjaannya. Begitupun dengan customer service (CS) di situs e commerce brodo, CS harus bisa melayani pelanggan Brodo layaknya teman baik, dan ini selalu di Training agar melayani pelanggan sesuai dengan visi misi Brodo.

Dengan semua strategi bisnis yang diterapkan Sepatu Brodo maka membuat nama Brodo semakin mendapat tempat di dunia Fashio tanah air, sepatu yang di banderol antara Rp. 250 ribu hingga Rp. 595 ribu itu mencapai penjualan 4500 pasang per bulan. Tentunya ini sebuah pencapaian yang tidak mudah dicapai tanpa adanya ketekunan, kerja keras dan digital marketing. Tentu kita dapat mencontoh bagaimana Inspirasi Belajar Bisnis dari Usaha Sepatu Brodo yang Memanfaatkan Digital Marketing dimana Yukka dan Putra dapat membangun Sepatu Brodo dalam tempo yang relatif singkat dengan memanfaatkan Digital Marketing.

Post Comment

%d bloggers like this: